pilihan kesehatan

psikologi di balik alasan kita menunda periksa ke dokter

pilihan kesehatan
I

Mari kita akui satu hal yang mungkin sedang kita sembunyikan saat ini. Ada satu rasa sakit di tubuh kita yang diam-diam kita abaikan. Mungkin ngilu di gigi belakang, benjolan kecil di area yang tak biasa, atau rasa lelah parah yang tidak kunjung hilang. Pernahkah kita berjanji pada diri sendiri, "Ah, besok juga hilang," lalu besoknya berubah menjadi minggu depan, dan minggu depan menjadi bulan depan? Tentu saja pernah. Kita sering kali lebih memilih bertanya pada mesin pencari di internet. Kita lalu mendadak panik sendiri karena hasil pencariannya mengarah pada penyakit mematikan. Namun anehnya, kepanikan itu jarang membuat kita langsung membuat janji dengan dokter. Mengapa kita begitu mahir menunda hal yang jelas-jelas menyangkut nyawa kita sendiri?

II

Kalau kita melihat ke belakang, kebiasaan menunda ini sebenarnya punya akar sejarah yang cukup masuk akal. Ratusan tahun lalu, pergi ke tabib atau rumah sakit abad pertengahan adalah sebuah pertaruhan nyawa. Praktik medis masa lalu dipenuhi dengan metode seperti bloodletting (pembuangan darah) atau terapi lintah. Metode-metode ini sering kali justru mempercepat kematian pasien ketimbang menyembuhkan. Jadi, insting leluhur kita belajar bahwa menghindari orang yang memegang pisau bedah adalah cara terbaik untuk bertahan hidup. Namun, kita tidak lagi hidup di era kegelapan medis. Ilmu kedokteran saat ini sudah luar biasa canggih dan aman. Sayangnya, otak kita belum menerima pembaruan software tersebut. Otak kuno di dalam kepala kita ini masih melihat rumah sakit sebagai gua penuh ancaman, bukan tempat perlindungan. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi di kepala kita saat kita menunda periksa hari ini? Ada satu mekanisme psikologis tersembunyi yang membuat kita membohongi diri sendiri setiap harinya.

III

Di ranah sains psikologi, fenomena ini tidak sekadar disebut sebagai rasa malas. Para peneliti menyebutnya sebagai health-care avoidance atau penghindaran layanan kesehatan. Menariknya, orang yang paling sering menghindari dokter bukanlah mereka yang tidak peduli pada kesehatannya. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang terlalu peduli dan kelewat cemas. Kita sering terjebak dalam apa yang disebut ostrich effect. Layaknya burung unta yang mengubur kepalanya di pasir saat ada bahaya, kita berpikir bahwa dengan tidak mengetahui penyakitnya, maka penyakit itu tidak eksis. Ditambah lagi, otak kita sangat pintar mencari pembenaran sesaat. Kita akan membatin, "Saya kan masih bisa jalan dan bekerja," atau "Tetangga saya gejalanya begini ternyata cuma masuk angin biasa." Kita terus mencari celah kecil untuk merasa aman. Tapi, rasa aman palsu ini justru memicu bom waktu biologis di dalam tubuh. Lalu, mengapa rasa takut akan sebuah diagnosis bisa mengalahkan rasa sakit fisik yang nyata-nyata sedang kita rasakan?

IV

Jawabannya terletak pada bagaimana sirkuit saraf kita memproses ketidakpastian. Di sinilah sains keras (hard science) memegang peranan. Di pusat otak kita ada amigdala, yakni sistem alarm yang mengatur rasa takut. Amigdala kita jauh lebih membenci ketidakpastian daripada kepastian yang buruk sekalipun. Ketika kita merasakan gejala aneh, status tubuh kita adalah "tidak pasti". Jika kita pergi ke dokter, ada risiko ketidakpastian ini berubah wujud menjadi "vonis buruk yang pasti". Secara neurologis, ketidaktahuan memberi kita ilusi kendali. Sebuah studi menemukan fakta yang mengejutkan: stres akibat menunggu diagnosis sering kali lebih merusak secara mental dibandingkan stres saat menerima diagnosis itu sendiri. Jadi, saat kita menunda ke dokter, kita sebenarnya tidak sedang malas. Kita sedang melakukan mekanisme pertahanan diri tingkat tinggi. Otak kita lebih memilih mempertahankan status quo tanpa vonis, demi menghindari lonjakan hormon stres kortisol yang akan meledak jika dokter mengucapkan kata yang tidak ingin kita dengar. Singkatnya, kita bukan menunda penyembuhan, kita sedang menghindari ancaman emosional.

V

Memahami cara kerja mesin otak ini pada akhirnya memberi kita satu ruang empati yang sangat besar untuk diri kita sendiri. Sangat wajar jika kita merasa takut. Wajar jika kita ingin lari dan menunda. Itu artinya sistem pertahanan emosional di kepala kita berfungsi normal. Namun, menyadari bahwa kita sedang diperdaya oleh bias kognitif dan ketakutan primitif adalah langkah pertama untuk berubah. Kita tidak bisa membiarkan amigdala kuno kita terus mengambil keputusan untuk tubuh modern kita. Ketidakpastian memang menakutkan, tapi ia adalah hantu kelaparan yang terus membesar jika dibiarkan di dalam kegelapan. Kepastian dari seorang profesional medis, seburuk apa pun itu pada awalnya, adalah pijakan pertama yang solid untuk kembali memegang kendali atas hidup kita. Jadi, jika saat membaca tulisan ini teman-teman teringat pada satu keluhan fisik yang terus ditunda pemeriksaannya, mari kita ambil napas panjang bersama-sama. Maafkan rasa takut itu sejenak. Lalu, segera angkat telepon atau buka aplikasi, dan buatlah janji temu dengan dokter sekarang juga. Kita berhak mendapatkan kepastian, dan tubuh kita berhak untuk dirawat dengan baik.